Sabtu, 21 April 2012

Fenologi


BAB 1
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Fenologi tumbuhan adalah kalender dari peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah kehidupan tumbuh-tumbuhan seperti waktu pertunasan, waktu pertumbuhan daun baru, waktu pengguran daun, waktu berbuah, waktu berbunga sertawaktu pertumbuhan diameter batang. Fenologi dan laju perkembangan suatu tanaman dipengaruhi oleh berbagai penyusun faktor iklim seperti suhu, panjang hari dan persediaan air. Fenologi pada daerah tropik memiliki sejumlah ciri-ciri yang khas jika dibandingkan dengan daerah temperat. Sifat-sifat fenologi yang menentukan kerangka sementara di mana bahan tersebut mengalami pertumbuhan (Odum, 1998).
Proses pertumbuhan menunjukkan pertambahan ukuran dan berat kering yang tidak dapat balik (irreversibel) yang mencerminkan pertambahan protoplasma mungkin karena ukuran dan jumlahnya bertambah. Pertambahan protoplasma melalui reaksi di mana air, CO2, dan garam-garaman organik dirubah menjadi bahan hidup yang mencakup pembentukan karbohidrat (proses fotosintesis), pengisapan dan gerakan air dan hara (proses absorbs dan translokasi), penyusunan perombakan protein dan lemak dari elemen C dari persenyawaan organik (proses metabolisme) dan tenaga kimia yang dibutuhkan didapat dari respirasi. Tiga fase utama yang mudah dikenali yaitu fase logaritmik, fase linier, fase penuaan (Salisbury,1992).
          Fase logaritmik,ukuran bertambah secara eksponsial sejalan dengan waktu. Ini berarti laju pertumbuhan lambat pada awalnya tetapi kemudian meningkat terus laju berbanding lurus dengan ukuran organisme, semakin besar organisme semakin cepat  ia tumbuh.
-            Fase linear, pertambahan ukuran berlangsung secara konstan, biasanya pada laju maksimum selama beberapa waktu lamanya. Pada batang tak bercabang fase linear disebabkan oleh aktivitas yang konstan dari meristem apikal.
-            Fase penuaan, laju pertumbuhan yang menurun saat pertumbuhan sudah mencapai kematangan dan mulai menua.
Dalam fenologi terdapat fase vegetatif dan fase reproduktif. Fase vegetatif  tampak dari perkembangan akar, batang, dan daun. Fase ini berhubunga dengan pembelahan sel, pemanjangan sel, dn tahap pertama diferensiasi. Dalam proses pembalahan sel diperlukan karbohidrat dalam jumlah yang besar karena dinding sel terbentuk dari selulosa dan protoplasmanya dari gula. Pembelahan sel terjadi dalam jaringan meristematis pada titik tumbuh batang daun, ujung akar, dan kambium.
Pertumbuhan ini dipengaruhi oleh faktor abiotik seperti iklim. Iklim memegang peranan yang penting dalam penentuan jenis kultivar tanaman yang dibudidayakan dalam penentuan hasil akhir, keberhasilan produksi tanaman mensyaratkan penggunaan sumber daya iklim seperti penyinaran matahari, karbondioksida, dan ai secara efisien (anonim, 2007).
Keseimbangan air adalah faktor iklim utama yang mempengaruhi tumbuhan. Ketersediaan air menentukan musim-musim pertumbuhan yang mungkin ada. Walaupun demikian suhu dapat berpengaruh besar terhadap laju pertumbuhan daun dan laju perkembanga tanaman di daerah tropik. Fenologi dan laju perkembangan suatu tanaman tergantung faktor iklim seperti suhu, hara, dan persediaan hara. Sifat-sifat khas fenologi menentukan kerangka sementara dimana bahan kering didistribusikan keberbagai bagian tanaman. Titik-titik kardinal fenologi jagung yang diakui secara luas adalah perkecambahan, inisiasi bunga, pembuangan (antesis dan perambuatan), dan kemasakkan fisiologi. Untuk jagung-jagung didaerah tropik, penanaman sampai pemasakan biji ditentukan oleh ; suhu, ketersedian lengas, pengiliran tanaman, dan kebutuhan ketersdian pangan yang tepat waktu. Laju perkecambahan akan menurun dengan menurunnya potensial lengas tanah. Suhu tanah 26 – 300 C adalah optimun pada waktu perkecambahan semai awal (Dirjen Dikti, 1987)
          
B.MASALAH
            Bagaiman tahapan atau proses pertumbuhan pada biji kacang hijau (Phaseolus radiatus) dari fase vegetatif (Germinasi) hingga fase generatif selama 7-8 minggu pengamatan ?

C.TUJUAN
         Untuk mengamati tahapan atau proses pertumbuhan kacang hijau (Phaseolus radiatus) dari fase vegetatif (germinasi) hingga fase generatif selama 7-8 minggu pengamatan.



BAB II
METODOLOGI

A.WAKTU DAN TEMPAT
Waktu/Tanggal            : 10.00 WIB- selesai /  27 November  2012
Tempat                        : Laboratorium Biologi FKIP UNTAN

B.ALAT DAN BAHAN 
ALAT
Alat yang digunakan adalah penggaris, pot, benang, dan alat tulis
BAHAN
Bahan yang digunakan adalah biji kacang hijau, tanah dan air.

C. PROSEDUR PENGAMATAN/CARA KERJA
1.      Praktikum ini dilakukan bersamaan dan menggunakan praktikum pengaruh faktor iklim terhadap pertumbuhan tanaman.
2.      Dicatat perkembangan semenjak tahap germinasi, saat kotiledon mulai tampak, saat daun pertama muncul, saat pertumbuhan daun masa vegetatif, saat mulai reproduktif. Agar tidak kehilangan periode tersebut pengamatan dilakukan setiap hari.
3.      Dicatat data temperature udara, presipitasi, kelembaban dan cahaya setiap hari. Dicatat hal lain yang mungkin terjadi.
4.      Dianalisa data dan dibuat grafiknya.
5.      Dibandingkan fenologi tanaman kacang hijau dikedua tempat.

  
BAB III

ANALISIS DATA

A.HASIL PENGAMATAN

Tabel 1 Pengamatan fenologi tanaman kacang hijau daerah naungan
No.
hari ke-
Pengamatan
1
1
Muncul Kotiledon
2
3
1 daun
3
5
8 daun
4
23
9 daun
5
37
Daun gugur 2
6
46
Daun ada yang layu
7
52
Batang ada yang patah
9
56
Tanaman layu

Tabel 2 Pengamatan fenologi tanaman kacang hijau daerah lapangan
No.
hari ke-
Pengamatan
1
1
Muncul Kotiledon
2
5
2 daun
3
23
10 daun
4
29
11 daun
5
41
14 daun
6
56
Tumbuhan mulai berbunga

  
B.PEMBAHASAN

Dari hasil praktikum fenologi terhadap pertumbuhan Phaseolus radiatus yang meliputi fase pertunasan, munculnya daun baru, pengguguran daun, waktu berbunga dan berbuah selama 2 bulan pada kondisi naungan dan lapangan. Berdasarkan hasil pengamatan, fenologi kedua tempat tersebut berbeda. Terlihat dari tabel 1 dan 2. Lama hidup kacang hijau di naungan lebih lama dibandingkan di lapangan terbuka. Namun kacang hijau di naungan tidak sempat berbunga walaupun umurnya lebih panjang dibanding kacang hijau di lapangan terbuka.
Adapun fase-fase pertumbuhan yang dapat kami amati pada praktikum kali ini adalah fase Germinasi, Perkecambahan sampai pada keluarnya daun satu persatu. Awal pertumbuhan biji kacang hijau adalah pada saat biji kacang hijau melakukan imbibisi, yaitu penyerapan air oleh biji kacang hijau. Proses imbibisi ini akam mengaktifkan enzim-enzim pertumbuhan yang sebelumnya mengalami dormansi. Perkecambahan tergantung pada imbibisi yaitu  penyerapan air akibat potensi air yang rendah pada biji yang kering. Air yang berimbibisi menyebabakan  biji kacang hijau mengembang dan memecahkan kulit dan memicu perubahan metabolik pada embrionya yang menyebabkan biji tersebut melanjutkan pertumbuhan. Setelah proses imbibisi ini, maka fase pertumbuhan mulai berjalan dengan bantuan dan dukungan faktor-faktor abiotik seperti cahaya, hara dan air. Awal pertumbuhan dimulai dari terbelahnya kotiledon yang akan memunculkan tunas-tunas akar batang, daun. Pengamatan fenologi tumbuhan meliputi bagaimana perkembangan tumbuhan baik itu fase Vegetatif sampai fase generatif. Enzim akan mulai mencerna bahan yang disimpan pada kotiledon dan nutriennya berpindah ke bagian embrio yang sedang tumbuh adapun organ yang muncul dari biji berkecambah adalah radikula yaitu akar embrionik. Epikotil menyebabkan helai daun pertama melebar dan bewarna hijau dan mampu berfotosintesis.
Berdasarkan tabel hasil pengamatan, pada minggu pertama daun dan biji mulai berkecambah dengan munculnya kotiledon. Pada minggu ke 2, daun bertambah menjadi 7-8 lembar. Penamabahan daun terus terjadi dari hari ke hari 5 sampai  batas pengamatan selama 8 minggu dan terjadi pengguguran oleh beberapa tanaman pada hari ke 37 atau pada minggu ke 4. Setelah tumbuh daun, pada minggu ke 6 sudah muncul bunga dengan jumlah daun sebanyak 14 lembar. Dari tabel 2, dapat dilihat bahwa ternyata jumlah daun yang dihasilkan oleh tanaman daerah naungan lebih banyak jika dibandingkan jumlah daun yang dihasilkan pada tabel 1.  Di lapangan terbuka, tanaman akan lebih banyak mendapatkan asupan cahaya matahari yang mengaktifkan beberapa enzim pertumbuhan dibandingkan dengan tanaman dinaungan.
Seperti yang telah diketahui bahwa cahaya matahari dapat bertindak sebagai faktor pembatas. Terlihat dari keadaan tanaman di lapangan terbuka yang usianya panjang namun tidak sempat berbunga, daunnya layu dan lama-kelamaan mati. Hal ini berkaitan dengan lebih lamanya penyinaran di lapangan terbuka dibandingkan di naungan, yang mungkin merupakan daerah yang cocok untuk pertumbuhan kacang hijau. Tanaman yang di lapangan terbuka dapat menghasilkan atau mengolah makanannya secara optimal karena ditunjang oleh cahaya matahari yang cukup untuk berfotosintesis sehingga pertumbuhan daun dapat dibentuk sebaliknya tanaman yang ditanam di naungan lebih lama memasuki stadium ini karena kurangnya cahaya matahari untuk melakukan fotosintesis karena terhalang oleh kanopi pohon. Selain itu faktor lain yang menyebabkan di daerah naungan perkembangannya lama yaitu tingkat kelembaban yang tinggi dan temperatur yang rendah. Keadaan ini menyebabkan daerah hutan baik untuk proses perkecambahan tetapi tidak mendukung untuk proses pembentukan bunga dan buah.


BAB IV
PENUTUP

A.KESIMPULAN
Dari hasil praktikum kali ini dapat diambil kesimpulan bahwa:
1.     Fenologi kacang hijau (Phaseolus radiatus) yang ditanam pada lapangan terbuka berbeda dengan yang di naungan.
2.    Pertumbuhan kacang hijau (Phaseolus radiatus) meliputi fase vegetatif dan fase generatif. Fase generatif merupakan peralihan antara tunas vegetatif menjadi meristem jaringan bunga.
3.  Perkecambahan kacang hijau (Phaseolus radiatus) dipengaruhi oleh faktor internal yakni imbibisi (penyerapan air).
4.     Faktor iklim seperti suhu dan cahaya mempengaruhi fenologi tumbuhan
5. Perkembangan pertumbuhan tanaman yang berada didaerah lapangan terbuka lebih baik jika dibandingkan dengan tanaman yang berada dinaungan.


DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2001. Analisa Vegetasi. http://www.nakertrans.go. id/. Diakses 15 Januari 2010  
Dirjen Dikti. 1987. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. Yogyakarta: UGM Press.
Fitter dan Hay. 1991. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Yogyakarta : Gajah Mada University   Press.
Michael, P. 1997. Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. Jakarta : UI Press.
Odum, E. P. 1998. Dasar-dasar Ekologi. Yogyakarta : UGM Press.
Rima,Tri. S, dkk. 2003. Buku Ajar Ekologi Umum. Pontianak : Fakultas MIPA, Universitas Tanjungpura.

1 komentar: